Arsip Kategori: Uncategorized

SEREKAH MAWAR DALAM PELUKAN


Ketika angin malam berbisik, rebahku tiada menimang ketenangan, hanya resah hati yang membara, mengusik jiwa yang terbakar gelora, dari kenangan masa silam yang masih terbayang dalam ingatan, namun tersisir perih oleh takdir mim yang bersimpuh dipersimpangan kasih

Maka bukanlah karena ketidak berdayaan, lalu hati yang lemah meronta dan mengais kasih sayang, ataupun gejolak muda remaja yang ingin merobek mencakar bahtera, namun keperkasaan cintalah yang kiranya telah meruntuhkan dinding kasih, hingga jendela hati yang terkunci, kiranya telah poranda diterpa badai asmara.

Karena walaupun kini telah kubuat dunia baru dalam kehidupanku, namun nyatanya tiada mudah bagiku menyembunyikan airmata, manakala dihening malam, selaksa impian telah bersimpuh ditelapak kerinduan, sehingga surga bahtera yang tergenggam, kiranya telah menjadi bara neraka yang membakar.

Maka pantaskah langit cintaku bersorak, disaat bumi kasih yang terpijak telah mengubur asa yang mengangkasa, sedang diredup rembulan hatiku terbuai oleh mesranya senyum sang bintang atau pantaskah purnama sayangku terbahak, sedang istana indah yang terimpikan kiranya telah menjadi dinding penghalang untuk kita berkasih sayang.

Duhai sayang.
Bila saja disaat itu engkau datang dalam keresahanku, niscaya tiadalah mungkin hatiku berpaling dengan cinta yang lain, sedang bualan sayang yang engkau janjikan, kiranya tiada jua menimbang kerinduanku pada kemenangan.

Karena apalah arti dari sebuah ucapan sayang, bila hanya untuk membuat hatiku terbang, sedang sayap dari kupu kupu cintamu, hanyalah untuk singgah dan bermesra pada setiap mekarnya klopak bunga.

Tiadakah engkau merasakan, bahwa begitu banyak penderitaan yang aku sembunyikan, manakala dipelukan malam, engkau rengkuh diriku dengan kerinduan, sehingga masa indah yang telah terhapus dan terlupakan, kiranya harus kembali bersandar pada jiwa yang kering akan kasih sayang.

Karena walaupun mawar putih yang telah terjatuh ditelaga cinta yang jernih, kiranya tiada akan menjadi layu, walau berabad penderitaan akan menguji kesetiaan, sehingga tiadalah mungkin aku dapat meronta, manakala pesona cintamu yang laksana cakar tarantula mencakar mangsa, namun nyatanya menitikkan racun berbisa yang indah.

Maka tanyakan pada hati kecilmu, masih adakan dermaga rindu untuk tempat cintaku berlabuh, sehingga pancaran kasih yang redup temaram, akanlah menjadi cemerlang laksana pesta bintang dikegelapan.

Karena bila tuhan telah mengikat sutera cinta untuk kita, niscaya siapun tiadalah akan sanggup melepaskannya, sehingga kesucian cinta yang telah tumbuh didasar hati, tiadalah akan menjadi keramau, walaupun cinta kita tiada sepersandingan.

Maka datanglah engkau kedalam kepelukan, niscaya engkau akan temukan jawaban atas keraguan, karena walaupun asmaraku meniti dijembatan cintamu yang rapuh, namun kiranya tiada akan membuat genggaman cintaku terjatuh.

Duhai Sayang?.
Kini ladang impianku telah basah oleh hujan rindu yang menggelora, manakala serekah mawar yang rebah layu kini telah kembali bermekar ditaman jiwa, sehingga tiada hati menjadi kesusahan disaat senyum sibunga mawar telah kembali dalam pelukan.

Maka janganlah engkau membawaku melangkah diantara hamparan bunga namun engkau membiarkan hatiku berduka, karena sesungguhnya engkau bukanlah cinta yang terlahir dari mimpi, yang membuatku terjaga, manakala terdengar ringkik kereta menjerit lalu menghentak lamunan diderap malam.

Ya Tuhan.
Mengapa engkau menuntun arah cintaku pada jalan yang bersimpang, sehingga serekah mawar yang telah harum tergenggam, kiranya harus jatuh terapung diatas samudra penantian.

Maka bangunkanlah aku, dari mimpi indah yang akan membunuhku, sehingga jerat tarantula dari cintanya tiada akan meruntuhkan dinding kesetiaan yang telah tergapai atau biarkan aku terlelap dan terbuai dialam khayal, manakala senandung pasir telah mengukir senyumku dipesisir, namun nyatanya mimpiku terkubur  diujung
– T A K D I R –

CINTA SUCI PENJELAJAH BAHARI

Cinta Suci Penjelajah Bahari
———————————

Ketika kapal bersandar telah lepas tali pengekang, kulihat seraut wajah polos yang gemulai telah tergurat kesedihan, sehingga pancaran kasih seketika mengerut ngeri, manakala lentik jemari melambai bersambut cerobong asap menjerit selamat tinggal.

Kubentang layar bukanlah karena ingin terbang, namun abdiku sebagai anak negeri kurela pergi asalkan sejengkal bahari tiada tercurangi, kuarungi lautan bukanlah untuk menantang murkanya gelombang, namun untuk senyum bahtera kasih yang abadi, aku rela pedih walau harus terasing keujung negeri.

Sehingga laksana ganasnya hiu pemangsa, kapalku melaju menerkam murka samudra, menerjang badai mencakar gelombang dan membenam resah membara, manakala api rindu tiada henti membakar jiwa.

Karena do’amu mengalir diantara hembusan angin, yang menyejuk hati gulana disepi bahari , sayangmu bercahaya diantara bintang bintang yang bermanja dilingkar bulan penuh kerinduan dan cintamu telah menjadi harum dilentur taman biru samudra hatiku.

Namun apalah daya manakala hati perkasa dilanda gulana, bintang berseri membakar naluri, gelombang bersorak congkak terbahak, hanya iringin symponi bahari yang membuai khayalku dilaut mimpi.

Sehingga dibibir malam resahku tiada menimbang kemenangan, hatiku larut dibuai symponi bahari, hanya paras menggoda secantik purnama yang membalut kebimbangan, manakala dibumi yang lunak hatiku karam dimekarnya bunga karang kerinduan.

Maka janganlah engkau biarkan aku meratap pilu dibawah payung kerinduanku dengan duduk membungkuk memeluk lutut diburitan sepi, sehingga diatas anjungan harapan yang tinggi namun engkau biarkan cintaku patah kemudi.

Karena hanya tawamu mengubur sepiku, karena hanya senyummu menghempas pahitku, sehingga pesonamu laksana hujan salju dimusim dingin, yang membuatku tiada henti menggigil dan menjadi hangat manakala diparas imajinasi engkau memelukku dan ditubuh kita menyatukan rindu.

Duhai sayang?…
Walau seribu dermaga dapat kusinggah dan berjuta paras molek mempesona datang menggoda, niscaya cintaku tiadalah akan terpedaya, karena paduan kasihku telah bersemi dan tiada akan menjadi gugur, walau berjuta musim akan berganti. Sehingga walaupun kita lama tiada berdamping, niscaya kesetiaan cintaku akanlah slalu bersanding, karena engkaulah dermaga, pelabuhan hatiku bersandar asmara, karena engkaulah navigasi penuntun arahku dalam meniti luasnya samudra kasih.

Karena bagaimana mungkin aku bisa hidup jauh darimu, sedang disetiap hentakan haluan yang mencakar gelombang, hanyalah rupamu yang terbayang dalam inggatan, sehingga sepanjang waktu yang aku lalui, niscaya tiada sedetikpun yang akan mengembara dari hatimu.

Maka selamilah hatiku lebih dalam, niscaya tiada akan engkau temukan keraguan atas cintaku, karena aku bukanlah perompak yang berhati laknat, yang akan memperdaya hatimu dengan muslihat, yang ingin membuai lelapmu dengan indahnya cinta sesaat.

Namun bila suatu ketika kulempar jangkar diantara pekikan camar yang bersahutan dan kulihat parasmu diantara ikan ikan yang berenang dilenturnya terumbu karang, niscaya tiada kutemukan surga yang lebih indah, selain kilau permata dari senyummu duhai bidadariku tercinta.

Ya Allah…
Biarlah aku menjadi raja kecil penguasa bahtera asalkan riuh gelombang dari cahaya hatiku dapat bersorak dan bertepuk tangan dengan gembira dari pada engkau jadikan aku seorang raja yang bertahta diatas singgasana yang indah, namun berenang diatas samudra airmata hambanya.

Karena bila pada suatu ketika langit tiada menjadi ramah dan lautanpun menjadi murka dengan semua penghuninya, sehingga istana terapung hancur tergulung dan aku menjadi bangkai terkubur berpusara karang, niscaya cinta yang bernaung dibawah rindho dan keikhlasan akanlah slalu berdiri diatas anjungan kesetiaan, sampai tuhan mengunci jalan hidup kita untuk sama tersenyum dimegahnya kabin surga yang
– D A M A I –

NERACA CINTAKU

Mungkinkah musim semiku telah berganti, hingga indah
cintamu tiada kurasa lagi, tiadakah engkau mengerti
akan rahasia dihati, yang slalu menyimpan sayang untukmu
duhai kekasih.

Kau biarkan syimponi rindu mengalun indah dalam jiwaku,
kau biarkan senandung cinta menggelora di dalam dada,
namun mengapa engkau berlalu dengan tiada hirau akan
perasaanku.

Aku memang tiada seindah permata yang dapat menerang
hatimu dikala gulita, namun jangan kau benamkan aku
kedalam lautan asmara, hingga tiada dapat menemanimu
berdayung sampan kepulau bahagia.

Janganlah slalu memperdaya hati, karena tanpamu langit
hatiku menjadi sepi. Janganlah slalu menguji cinta, karena
akupun ingin bahagia, untuk menjadi abdimu dalam mahligai
indah.

Kini malamku sepi, hanya canda tawamu yang bermain ujung
dimata, hanya senyum manismu yang menari di istana mimpi,
mungkinkah cinta ini akan menjawab do,a, hingga neraca cinta
dapat melangkah ke tahta
– B A H A G I A –

BUAH DARI CINTAKU

Tiada hasratku untuk merantai, akan kebebasan yang engkau
inginkan. Bukan pula membatasi dirimu untuk berkawan,
karena masa muda bukanlah hanya untuk mencari senang,
yang hanya berfoya dan tertawa sampai tiba ujung malam.

Busungkan dadamu, hingga bila ada badai yang menerpa,
engkau tiada terhanyut dalam derita. Teguhkan imanmu,
hingga langit yang engkau pijak, tiada membuatmu melayang
dalam kesombongan, karena ada harapan yang akan éngkau
gapai, harapan yang teramat suci untuk dirimu, keluargamu
dan juga negaramu.

Gapailah harapku setinggi citamu, dan janganlah gugur
sebelum waktu. Mungkin raga ini akan sangatlah letih,
namun jangan biarkan jiwaku menjadi perih, karena kelak
kau akan berpijak dengan kakimu sendiri, namun segala
do’a dan harapku, akan slalu mengiring langkahmu, dalam
mendaki tangga peruntunganmu.

Aku tiada berharap akan segala balasan, namun senyumanmu
akanlah menjadi kebanggaan, kini ragaku akan menyusut
dan rapuh, namun jangan kau buat harapanku runtuh.

Maafkan bila disepanjang usia, aku tiada dapat membuatmu
menjadi sempurna. Namun raga dan jiwa tiada akan pernah
lelah, menjadi payung untuk teduhmu, dari teriknya cahaya,
yang akan membakar peruntungan hidupmu didunia.

Engkaulah belahan dari jiwa, yang menjadi buah dari
sucinya cinta, hingga aku dapat merasa, dengan apa yang
bergejolak didada, dan janganlah kau simpan derita,
bila tiada ingin aku menitikkan
– A I R M A T A –

HARUSKAH AKU MEMBENCIMU

Megapa kecewa teruslah menghampiri?, hingga hujan
airmata tiada dapat terhindari, engkau yang begitu
aku sayangi, namun kini éngkau semakin menjauh untukku
mengerti.

Engkau yang kupuja, yang tiada batasku memberi cinta,
kini telah tega membuatku hidupku merana, engkau tinggalkan
aku, engkau hempaskan cintaku, dengan tiada pernah kutau
apa salahku.

Kucoba bertahan dalam penantian yang tiada kepastian,
namun engkau semakin jauh dan menjauh, dengan tiada
pernah hirau akan perasaanku.

Haruskah aku membencimu?, mengumpat dan mencaci.
Sedangkan aku tiada dapat membohongi perasaan hati,
bahwa masih kusimpan kerinduan yang tiada dapat aku
hapuskan. Yang tiada mungkin hilang, dari indahnya
cinta yang tiada pernah lepas dari ingatan.

Kini cukuplah engkau menjadi kenangan, dari perjalanan
cintaku, dari kandasnya impianku. Walau tersimpan pahit,
namun manisnya ucapan, indahnya belaian sayang, harumnya
napas cinta yang engkau semaikan, bagai tiada mampu
menghukummu dengan
– K E B E N C I A N –

CINTAKU TERBAKAR DIDERASNYA HUJAN KERINDUAN

Ketika perasaan sayang, telah berayun dibeningnya ingatan,
dari kenangan masa lalu yang masih disini, manakala engkau
membawaku ketaman indah untuk bermesra diharumnya kelopak
bunga, hingga datang tepukan sayap dari binatang malam
yang mengusik lamunan, dan seketika sirna bersama datangnya
senyum sang fajar.

Sehelai daun kerinduan telah melayang jatuh dipangkuan,
melepas terik dan mengikis rindang kedukaan, dan bunga
bungapun bergugur, manakala dimusim semi yang indah
seketika cintamu hilang aroma.

Adakah kiranya seseorang telah mencuri hatimu, dan dengan
tiada menimbang, engkau tega mengunci hati pada cintaku
yang tiada batas menyayang, hingga beningnya cintamu telah
menjadi keruh, dan tiada lagi bersandar pada hatiku yang
terlalu tinggi menyayang.

Begitu mudahkah hatimu terpedaya, terperosok dan terjatuh
dilembah nista, sehingga dilidah neraka yang menyala, telah
menjadi sebuah pesta untuk tempatmu bermanja, manakala
bualan berbisa engkau jadikan sebuah ilham, untuk indahmu
dalam berkasih sayang.

Entah adakah cinta ini suatu kesalahan?, sehinga penderitaan
begitu panjang untuk aku rasakan, sedang disetiap gelembung
merah yang mengalir didalam darah, masihlah menggumpal kasih
sayang yang tiada pernah pecah.

Karena walaupun kini jarak telah memisahkan jalanku, namun
aku telah kehilangan hati dan jiwa, sehingga gelisahku tiada
mampu bersandar, manakala hatiku terguncang diterpa hembusan
angin kerinduan.

Maka tiada pantaskah aku menjadi serakah?, manakala hatiku
telah menjadi milikmu seutuhnya, karena walaupun dimimpi
yang indah aku terluka, namun kerisuaan hatiku seketika
sirna, manakala dikeruhnya telaga jiwa, engkau percikan
tinta emas yang menyala.

karena dikedua telapak tanganku, telah tertulis garis cinta
untukmu, dan seamanya akan menjadi keabadian, sehingga
walaupun begtu banyak penderitaan yang akan menghadang,
niscaya cinta untukmu tiada akan pernah berkurang.

karena cintaku bukanlah sebakul jagung pengumpan burung,
ataupun sekeranjang gandum yang berat terpikul, namun
selingkar tasbih yang menyejuk hati, Yang tiada akan sirna
walau berjuta musim akan berganti.

Maka apalah guna aku bersenang dijernih sungai, apabila
engkau tiada besertaku mengarunginya. Karena walaupun aku
tergelincir dari jembatan cintamu yang rapuh, namun semua
itu tiadalah akan meruntuhkan kesetiaanku.

Bahkan ketika engkau jauhpun, hatiku tiada dapat melupakan,
karena cintamu telah hidup dalam diriku, dan tiada akan
kubiarkan cinta itu menjadi layu, walau sesungguhnya ragaku
terlalu rapuh, untuk dapat membuatmu tersenyum.

Maka biarlah aku menjadi rahasia dalam hidupmu, rahasia
yang tiada pernah terkunci disetiap mimpi, rahasia yang
slalu terbuka untuk sebuah pengharapan, sampai takdir
menuntun jalan cinta kita, untuk sama tersenyum disurganya
tuhan.

Karena aku tiada pernah tau, sampai kapan perjalanan cintaku
akan berakhir. Entah dapatkah kita slalu melaju dalam satu
perahu, ataupun terkunci sampai terhenti detak nadi, namun
untuk melihatmu slalu tersenyum, niscaya aku relakan
selamanaya airmataku mengalir.

Namun apabila malaikat telah menyirami hatimu dengan cahaya,
dan tuhanpun telah menuntun jalan nasibku untukmu, niscaya
tiadalah aku mampu menutupi kegembiraan, manakala cintamu
bersanding dalam dekapan.

Ya allah.
Entah rahasia apa yang engkau sembunyikan, manakala dibawah
teriknya cahayamu, namun engkau gelapkan jalanku, sehingga
laksana melangkah diatas bara, hatiku hangus binasa, manakala
kesucian cintanya telah menjadi harum diatas abu
– P E N D E R I T A A N K U –

CINTAKU TIADA BERSULANG DALAM KEGELAPAN

1510000227443

CINTAKU TIADA BERSULANG DALAM KEGELAPAN

Ketika serunai malam mendesau, mantramu mengalir dihembusan angin, menggetar jiwa yang terpasung dilembah nestapa, menghangus cinta dari masa indah yang berakhir seketika.

Entah wajah siapa?, yang telah memalingkan hatimu, sehingga engkau begitu percaya akan pemungkir yang berucap janji, sedang cintaku disini masihlah kokoh berdiri.

Haruskah kuremas matahari, hingga engkau mengerti betapa hatiku terbakar manakala cintamu pergi.
Ataukah kupetik rembulan untuk sebuah pembuktian, hingga engkau percaya bahwa cintaku teramat dalam.

Adakah perangkap yang tiada aku sadari?, sehingga engkau begitu tega memperdaya hati, lalu hanya karena curiga, hingga batu yang tersentuh menjadi bara.

Entah sampai kapan kedukaan akan bertukar kesenangan?, Sedang cinta yang engkau janjikan hanyalah airmata yang mengalir laksana derasnya hujan. Mungkinkah kebahagiaan kembali dalam pelukan?, sedang dilembah yang hijau aku terdapar dalam kesedihan.

Maka selamilah hatiku lebih dalam, niscaya akan engkau temukan kebenaran dari cinta yang aku janjikan. Karena sesungguhnya pancaran kasihku masihlah gemerlap, walau cintaku tiada lagi engkau inginkan.

Karena bukanlah harta dunia yang membuat dirimu menjadi berharga, namun kilau permata dari cahaya hatimulah, yang telah membuatku jatuh cinta.

Maka biarlah fitnah dah hasutan, menjadi raja menguji kesetiaan, asalkan puspa cinta yang telah menghantar keharuman tiadalah terhancurkan, walau tinta hitam melukis kegelapan.

Duhai sayang?. Tiada inginkah engkau melihatku tersenyum, seperti berjuta kumbang yang begitu riang menyambut datangnya musim semi. Dan kubiarkan engkau menjadi lebah yang jatuh cinta, untuk bermesra pada harumnya kelopak bunga, dari tangkai kasihku yang telah menjadi segar, terpupuk oleh sentuhan sayangmu.

Karena hanya cahaya matamu, yang dapat menghibur sepiku. Karena hanya senyum manismu, yang dapat menghapus kepedihanku, sehingga laksana di 15 pancaran purnama, pesona cintamu telah menerangi jiwaku yang gulita.

Maka janganlah engkau runtuhkan tangga menuju surga, apabila tiada ingin melihatku terjatuh dilembah nestapa, karena sesungguhnya engkaulah penyangga pada kokohnya pagar kesetiaan, dari sebuah cinta yang bernaung dibawah ridhonya tuhan.

Karena walau rambut harum panjang terurai, menjadi lusuh tercakar kotornya debu, namun hati yang bening akan kasih sayang, tiadalah akan menjadi kemarau, walau berabad tuhan menguji kesetiaan.

Ya allah, kembalikanlah kebahagiaanku, Janganlah engkau rampas ia dariku, karena walaupun seribu wajah dari tamparan dusta telah melukai jiwa, namun apabila bayangnya datang tersenyum, niscaya telah kutemukan jawaban atas keraguan.

Karena sesungguhnya cintanya adalah madu, yang tiada akan membuat bunga terluka menjadi patah
ataupun layu, hingga dengan cintanya tiada lembaran hitam yang akan bersulang dalam kegelapan..

Karena cinta yang hinggap diranting hatinya, bukanlah karena haus ataupun lapar akan kasih sayang, namun aku telah melihat kemuliaan pada dirinya, yang kelak dapat penuntun jalanku, untuk dapat bermanja ditaman surga yang
– I N D A H –

AKSARA CINTAMU

Aksara Cintamu

Tiada pernah terbayangkan olehku, akan jalan cintaku yang berdebu, yang terlalu gersang untuk rasakan, yang terlalu pedih untuk diratapi.

Engkau yang datang sebagai Pelangi, yang slalu mewarnai tidurku
dengan indahnya mimpi, yang membuat aku tersenyum dikala menatap fajar pagi, dan membuat suramku menjadi berseri.

Namun kini keluhku tiada engkau dengar, ratapku tiada engkau hirau, hanya menyisa pahit, dan mungkin terlalu pahit, hingga langkah cintaku kian terlunta, dengan tiada pernah kutau apa sebabnya.

Bila memang sudah tiada suka tiada usahlah menanam derita, karena akupun menyadari, bahwa untuk merengkuh cintamu, hanyalah sebuah tabir mimpi, walau engkaupun tau, akulah cinta yang terlahir dari sebuah mimpi .

Kini aku lelah, aku telah kalah, namun indah yang kau berikan tiada akan lepas dari ingatan, karena disetiap bait aksaramu, akanlah bersenadung lagu rindu, dan selamanya aku menantikan kembara hatimu menjadi
– M I L I K K U –

KUKIRA ENGKAU SETIA


KUKIRA ENGKAU SETIA

Ketika dibelantara kota hatiku sepi, aku tersesat dan tertatih pada jalan yang tiada asing kulalui, manakala jiwaku perlahan pergi, menanti dan mencari, akan cintamu yang tiada lagi menepi.

Tiada pernah terlintas dalam benakku, engkau akan memperdaya cintaku, karena semula kukira, hanya aku yang dapat membuatmu tersenyum, namun nyatanya, hanya gumpalan sendu yang tinggi menggunung.

Engkau mengambil harum dari napasku, namun mengapa kemudian cintamu berlalu. Sehingga laksana kapal nelayan yang diguncang badai, hatiku terombang ambing dalam lautan kesedihan.

Entah siapa sebenarnya yang engkau sukai?, sedang disenyap malampun engkau biarkan aku sendiri. Entah kebahagiaan apa yang engkau inginkan?, sedang rembulan ditangan, engkau remas dan engkau campakan.

Engkau yang menuangkan aku segelas anggur kenikmatan, namun mengapa belumlah habis terminum lalu engkau tumpahkan?, sehingga aku yang telah terjatuh dalam pangkuan hatimu. Kiranya harus menjadi debu dari begitu banyaknya cintamu.

Kau sanggulkan aku bunga, namun mengapa kau balurkan wajahku dengan airmata?, sehingga dengan tiada asap hatiku terbakar, manakala diruncing rembulan, cintamu tiada berpetualang dengan keindahan.

Entah muslihat apa yang mengalir dalam benakmu, sehingga engkau berlaku keji menista cintaku.
Sehingga kerajaan kecil yang aku impikan, kiranya hanya dongeng indah yang melelap sikecil dikala malam.

Duhai sayang?, Janganlah terus mengintimidasi hati, karena aku tiada meminta sedekah dari banyak cinta yang engkau punya, karena sesungguhnya cinta yang bernilai, tiadalah akan engkau dapatkan, pada eloknya rupa, yang slalu membuatmu terbang akan sanjungan.

Entah hidupku untuk siapa, apabila legenda cintamu tiada membawa sertaku didalamnya?, karena walau tiada setetes kasih sayangmu mengalir, namun yakinlah bahwa cinta untukmu tiada akan pernah kering.

Maka peluklah diriku, dan ambillah hangat dari tubuhku?, niscaya engkau akan percaya, bahwa tiada keraguanku atas cintaku. Karena sesungguhnya, engkau bukanlah bayangan yang terlelap dalam dekapan, yang hanya untuk menepis bisu, manakala hatiku dilanda rindu.

Rasanya tiada mungkin aku melupakan, akan kisah romantis diujung petang. Manakala engkau biarkan payung menguncup dideras hujan, dan sepuluh jari berpaut satu genggaman. Sehingga aku yang begitu dungu akan asmara, kiranya telah menjadi dewasa ,dalam dentang melodymu yang mesra.

Namun mengapa kini, begitu cepat cintamu menua?, sehingga musim semi berlalu dengan tiada aroma bunga. Entah masih adakah harapan untuk cinta berbuah senyuman?, sedang airmata yang tergenggam, adalah perasaan hati yang engkau abaikan.

Entah kemana cintamu berimigrasi?, hingga aku terasing dalam bahtera cintaku yang suci. Sedang bentangan sayang dari sayap elang yang aku banggakan, kiranya hanya cakar terurai yang telah tega memangsa dan melukai hati yang tiada henti mengasihi.

Duhai kasih, haruskah hubungan ini harus berakhir?, sedang untuk cintamu aku terlahir. Haruskah cinta berpusara, sedang cinta untukmu, slalu berpetualang mesra diharum bunga.

Karena sesungguhnya muara kasihku telah bersemi, dan tiada kuingin mengering lagi, maka janganlah kau tampakkan wajah pengecut, karena walaupun aku terbiasa kehilangan dari apa yang aku inginkan, namun cinta untukmu, niscaya tiada akan pernah
– P A D A M –

MELATI YANG TIADA BERSERI

IMG-20170625-00008ColorSplasher

Ketika perahu yang setambang dalam eretan, telah menjadi pecah sebelum ketepian. Sehingga laksana burung2 yang hijrah dikala petang, hatiku melayang mencari singgahan, dari putihnya cintaku yang kini engkau hitamkan.

Semula kusangka cintamu seharum melati, namun ternyata hanya aroma pedih yang meracun hati. Sehingga aku tiada menyadari, bahwa mutiara kasihmu, hanyalah butiran debu yang kotor dan berbau.

Entah salah apa yang telah kulakukan?, hingga vonis yang begitu berat engkau jatuhkan. Entah dosa apa yang membeban?, hingga murka tuhan begitu berat aku rasakan.

Begitu pandainya matamu menyimpan dusta, begitu manisnya lisanmu bersilat lidah. Sehingga laksana permata yang jatuh berserak diserpihan kaca, aku tiada dapat membeda, bahwa dibalik putihnya cinta, engkau baluri hatiku dengan percikan noda.

Mungkinkah ini sudah menjadi nasib siputik menjadi buah, manakala bergugur sayap sayap klopak diantara bunga. Sehingga aku yang jatuh diperaduan sayangmu, kiranya harus menanggung pilu, dari lincahnya kembara kasihmu.

Sehingga hatiku menyatu dengan penderitaan, jiwaku telah mengembara kepada
nikmatnnya kesengsaraan. Manakala kepercayaan yang aku suguhkan, kiranya telah engkau tampar dengan kecurangan.

Kini bergugurlah sudah bunga rindu, mengering berserak diantara debu. Redup sudah cahaya hati, padam dan kelam menghangus naluri. Sehingga laksana berdiri diruncing belati, hatiku merintih direjam siksa duniawi.

Duhai kasih.
Engkau boleh menuai kebencian, sebanyak yang engkau inginkan, ataupun mengunci menutup rapat jendela hati, namun mengapa putihnya cintaku engkau dustai.

Karena diburitan kasih hatiku merintih, menerjang siang dengan kedukaan, menghempas malam dengan kepiluan. Sehingga laksana berenang diatas bara, hatiku merana terhempas badai duka.

Duhai sayang.
Tiada cukupkah kasih sayang yang kuberikan, hingga engkau berlaku keji dengan membagi kasih kelain orang. Sedang disetiap desahan angin malam, kutadahkan pengharapan, yang hanya untuk bersamamu sampai dipenghujung kehidupan.

Kini usahlah engkau kembali, karena hatiku telah terkunci oleh rantai benci. Manakala dalam pelukan harapan cintaku telah engkau hempaskan, dan biarlah kutempuh jalan lirih, yaitu jalan yang tiada untuk cintamu lagi.

Karena bukanlah cantik yang setinggi langit, ataupun tampan segagah pangeran, yang akan membuat hati kita menjadi tentram. Namun kesetiaan dari sebuah kasih sayanglah, kiranya yang slalu aku dambakan.

Namun bila sebelum jasadku berkapas, dibawah sorak rembulan kutemukan kedamaian. Maka bukanlah karena selembar dasi yang telah membuat cintaku pergi, ataupun sehelai sorban yang telah membuat hatiku terbang.

Karena itulah penawar yang diberikan tuhan, akan hidayah yang kupinta ditadahan do’a, agar senyumku yang kerana, kiranya akan kembali mengembang laksana bunga.

Ya allah.
Bebaskan aku dari belenggu pilu, dari cinta yang telah menggores jiwa, dari sayang yang menikam perasaan. Sehingga hatiku yang rapuh, menjadi terbebas dari
– P E N D E R I T A A N –