Semua artikel oleh bakotaldino

Bakotaldino Lahir. : tangerang 15 Agustus 1971.. Home. : Bintaro 9 Pd Aren. Tangerang. Banten. Indonesia Jadikanlah rangkaian kata sebagai penyejuk di dalam jiwa.. Sehingga setiap orang akan terkagum dan terpesona dengan karyamu.. Dan menyayangimu..

TITIAN RINDU BINTANG HATIKU

13920874_1072342946181888_7308415033135143890_nColorSplasher

Ketika napas rindu telah mengharum istana qholbu, hanya naluri yang bergejolak dikancah hati, dari sebuah harapan yang terkunci, untuk sama bahagia dalam meniti tangga kasih.

Kusebut namamu disetiap bait do’aku. Kurenung parasmu disetiap jengkal helaan napasku, dan kudekap rindumu dari setiap hentakan aliran darah dalam urat nadiku, karena telah kudengar suara, yang menggema mesra direlung jiwa, yang seakan memanggilku pulang, untuk sebiduk kasih dalam buaian sayang.

Sehingga dengan tiada api hatiku terbakar, oleh bara rindu yang menghangus pikiran. Dengan tiada meminum arak aku telah mabuk, oleh pesona cinta yang engkau suguhkan.

Duhai sayang.
Entah rahasia apa yang tersimpan dalam debaran, sehingga disetiap sudut sepiku, hanya parasmu yang melekat dalam ingatan, sehingga laksana mendulang intan, engkau hiasi kehidupanku dengan berjuta kebahagiaan.

Karena engkaulah kesempurnaan dalam hidupku, cahaya terang disetiap kancahku meniti kehidupan, sehingga walaupun detak nadiku terhenti, niscaya cinta untukmu tiada akan berkurang.
Maka mintalah semua yang engkau inginkan, niscaya nyawapun akan kuberikan, karena sesungguhnya duniaku telah menjadi milikmu, dan hatikupun akan menjadi berduka, manakala cinta kita harus terpisah.

Duhai kasih.
Tiada akan terhenti derap hati, untuk slalu menjelajah bumi kasihmu yang abadi, karena aku mencintaimu, dan mungkin lebih dari yang engkau bayangkan. Sehingga walaupun perahu rindu, telah jauh tergayuh dari dermaga hatimu, namun napasku akanlah slalu menderu laksana derap kuda yang berpacu, yang berlari riang menyusuri bukit rindu. Sehingga tiada mungkin aku rela, bila sehelai rambutmu akan terjatuh, ataupun setetes darah akan mengalir, yang akan membuat hatimu terluka.

Duhai sayang?.
Aku tiada peduli bila lentera langit menjadi padam, asalkan purnama cintamu tiadalah menjadi redup dan temaram. Karena engkualah kekasihku yang menyayangimu tanpa batas, karena engkaulah pujaanku yang mengasihiku tanpa henti, sehingga tiadalah mungkin aku berpaling dari masa yang indah, dengan memberi senyum, kepada cinta yang terlalu asing untukku jelajah.
Maka lihatlah beningnya mataku, yang tiada pernah menyimpan dusta untuk cintamu. Lihatlah ranumnya bibirku, yang telah basah oleh berlembar do’a, dari sebuah pengharapan untuk cinta tiada terpisahkan, dan dengarlah kidungku, yang slalu bersenandung rindu, untuk dapat rebah dan bersimpuh dipangkuan hatimu, karena walaupun seribu kehidupan berulang, niscaya kesucian cintaku hanyalah untukmu seorang.

Dan telah engkau pahami, bahwa kembaraku bukanlah karena tiada menyayangi. Namun untuk sejengkal harapan, untuk sama bahagia dalam berkasih sayang

Ya tuhan.
Janganlah bangunkan aku dari mimpi indahku, sehingga pertarungan bathinku dikancah rindu, tiada membawa kepedihan pada jalan cintaku, karena cintaku bukanlah kesesatan, dan tiada mungkin akan membawanya kepada cinta yang
– M E N Y A K I T K A N –

NERAKA CINTA

Ketika telaga kasih tiada lagi menjadi jernih, keruh dan memerah laksana darah. Disaat itulah jiwaku berenang dalam kepedihan, manakala kesucian cinta telah menjadi lemah, tertikam belati dari murka sang pemuja duniawi.

Begitu dahsyatkah lidah berbisa meracuni jiwa, sehingga dibibir rumah tuhanpun aku terbenci dan tercaci. Sedang purnama diujung pedang masihlah nampak keindahan, walau rembulan penuh telah melayang melintas jauh diterjalnya karang.

Begitu tinggikah menara kebencian, hingga tiada melihat mutiara kasihku yang berkilau dilembah hati yang dalam. Sedangkan bukit asmara yang rindang, tiadalah terpupuk dengan kecurangan.

Mengapa cinta yang suci harus terbenci, terperosok dan jatuh kerimba yang pedih. Sehingga laksana jejak kaki yang perlahan terkikis butiran debu, indahnya cintaku, kiranya hanya menjadi mimpi manis dimalam yang bisu.

Sehingga aku yang tergelincir, terhempas dan terguling dari bukit batu cintamu. Kiranya telah menjadi lemah, manakala putiknya cinta, harus terpangkas disaat menebar harumnya.

Kini entah kemana harus kubersandar, sedang disetiap penjuru tiada kutemukan tangan tuhan, yang dapat menyejuk jiwaku dalam kedamaian, yang dapat memayungiku dari hujan fitnahan.

Ya allah.
Tiada pantaskah hati yang teraniaya rebah bersujud dirumah tuhannya, manakala hati yang terpitnah, telah terasing dari orang orang yang merendahkan, akan arti sebuah kasih sayang.

Karena telah kulihat amarah pada setiap sorot mata yang menista cintaku, yang ingin mempardaya kasihku. Sehingga laksana bumi tiada berlangit, cintaku menjadi hampa dan tiada bercahaya.

Kini.
Lepaskah sudah tali bersimpul, pengikat hati yang menjalin kasih, manakala seribu kuntum senyum yang telah bermekar ditaman hati, kiranya kini telah menjadi layu, patah tercabik oleh murka sang penjajah cinta.

Duhai sayang.
Aku memang bukanlah malaikat, yang disetiap saat dapat menjaga dan memayungimu dari setiap bala, namun disetiap jengkal dari helaan napasmu, niscaya punggawa langitpun tiadalah yang akan sanggup, membendung hujan rindu dari hatiku.

Karena sesungguhnya cinta untukmu bukanlah suatu kesalahan, yang akan menjadi lapuk karena ketiada berdayaan, dan selamanya senandung cintamu akan slalu berayun dalam hatiku, walaupun engkau tiada menjadi
– M I L I K K U –

MULIANYA RENCANA TUHAN

1495011233227

Ketika berjuta lembaran do’a telah berpaut pada suatu keinginan, bergemuruh aliran rindu, menggelegar gelombang sayang dan menghangus serpihan duka, manakala selaras senyum telah menari mesra diujung mata.

Begitu mulianya rencana tuhan, manakala kupijak bumi cintamu sebagai singgahan, sehingga laksana gemericik hentakan gelang kaki, engkau membuat hatiku menari, menerang pelangi dipentas buana hati.

Entah sihir apa yang engkau kemat, sehingga dikala sama menatap, keangkuhanku menjadi luluh dan berkarat, karena hanya cahaya matamu yang dapat menghibur sepiku, karena hanya senyum manismu yang dapat mengubur kepedihanku.

Sehingga aku yang begitu lugu, yang tiada mengenal akan asmara, kiranya kini menjadi seorang pemabuk, hingga tiada dapat membeda antara madu ataupun racun yang engkau suguhkan, yang karena saying semua menjadi nikmat untuk aku rasakan.

Semula aku tiada percaya, bahwa dengan cinta diriku akan menjadi terpedaya, namun barulah kini aku sadari, bahwa disaat engkau jauh, hatiku sangatlah merindukanmu, hingga begitu banyak kegelisahan, yang telah mengganggu pikiran.

Karena bagiku engkaulah yang teristimewa, yang mampu meruntuh kepingan duka mengubur nestapa, sehingga begitu banyak kesenangan yang aku rasakan, yang tiada mampu terbaca oleh nalar dan pikiran.

Telah kulihat bunga pada bibirmu, sehingga setiap yang engkau kecap, mmenebar keharuman pada djiwaku, mungkinkah aku telah jatuh cinta, atau lebih jauh dari kata cinta, sehingga bila sekejap tiada berjumpa, niscaya hatiku slalu dilanda gelisah.

Duhai penguasa malam.
Entah dengan siapa kutitipkan kabar, agar engkau mengerti akan apa yang sedang aku rasakan, sehingga keriduanku dapatlah terbayar dengan senyuman, sehingga kesucian cintaku tiadalah hangus direbah petang.

Duhai sayang?.
Tolong ajari aku untuk mengendalikan rasa rindu, tolong katakan sesuatu, hingga sayap cintaku tiada terbenggu pada jeruji hatimu, karena helaan napasku akan terhenti, manakala indahnya senyummu tiada disini.

Kini teratai cintaku telah basah, tersiram hujan asmara menggelora, gelembung rinduku telah pecah, tertikam oleh dahsyatnya sihir keindahan, sehingga laksana petani yang menari berpesta dipanen raya, dihela napas pedati aku bernyanyi, dan disenyum rembulan kugantung sebuah harapan yang suci, yang akan slalu bersama satu hati, sampai napas ini
– T E R H E N T I –

ISYARAT CINTA DIMALAM YANG GULITA

KIOMIA ALMI NOVANTO
1494426964590

Ketika angin malam mendesau lirih. Hatiku menangis dilelap bisu. Jiwaku meratap dipelataran rindu. Hanya tetes embun yang membasah, menitik diputih lembaran hati, dan menoreh tinta rindu pada lukisan paras imajinasiku.

Napas rinduku menderu, mendekap dingin singgasana qalbu. Senandung cintaku menggema, menggetar syahdu alam maya. Dan kesedihanku berlalu, manakala kehadiranmu telah mengusik tidurku dimalam bisu.

Mungkinkah ini sayang?, atau naluriku yang terlalu jauh berkhayal. Namun sejujurnya harus aku katakana, tiada kebimbangan dalam hatiku, ketika pautan kasih telah bersandar dibahu cintamu. Karena tiada mungkin lelapku menjadi berjaya, manakala indahnya senyummu tiada nampak diujung mata.

Karena hatiku telah mengembara, berlari dan mendaki dipuncak nirwana. Jiwaku terpedaya, terpasung rindu pada cinta diluar logika. Sehingga laksana sayap kupu kupu yang berterbang menari diantara kuncup bunga yang bermekar, alam mimpiku menjadi indah, tersiram aroma kebahagiaan.

Duhai tamu impian?.
Entah pantaskah aku berkata sayang, sedang engkau hanya datang disaat aku terlelap dihening malam. Entah pantaskah aku cemburu?, sedang dikala tiada nampak parasmu, jiwaku laksana hutan pinus yang hangus terbakar, ranting hatiku kering dan berserak diantara debu debu rindu yang berterbang.

Duhai sayang..
Malamku bisu dikala tiada kulihat senyummu. Siangku hampa, manakala tiada kudengar celotehmu yang mesra. Karena eloknya parasmu telah menari dilentik bulu mataku, dan tiadalah akan menjadi sirna, walau sang fajar telah membuatku terjaga.

Sehingga tiadalah mungkin, isyarat cinta kita menjadi kesusahan. Karena cintaku telah bersemedi dihanggar kasih, dari indahnya persembahan cinta, yang membuat alam mimpiku menjadi berbunga.

Karena bila saja malamku tiada berganti siang, niscaya waktu yang bergulir panjang, akanlah kurengkuh mimpiku sampai diujung penghidupan. Sehingga tiada hari indah yang tersisa, untuk cinta kita terajut dalam bahagia.

Duhai sayang.
sesungguhnya cintaku telah bersemedi kepada eloknya parasmu, yang senantiasa bercahaya, menerangi pekatnya alam mimpiku. Sehingga laksana purnama yang bersembunyi dibalik mega, samarnya isyarat cintamu tetaplah indah.

Karena engkaulah tamu impian, pijar cahayaku dilelap malam. Engkaulah tamu yang tiada kuinginkan, namun hatiku sangatlah takut untuk kehilangan. Sehingga laksana perahu yang melaju tanpa layar, jiwaku terombang ambing diterpa gelombang kebimbangan.

Ya allah..
Lindungilah diiriku dari cinta yang membawa petaka, sehingga cinta yang aku impikan, tiadalah menjadi sebuah khayal yang tiada sanggup aku wujudkan. Dan janganlah engkau membuat bumi cintaku menjadi hampa, manakala teratai mimpiku menjadi kering dan tiada
– B E R B U N G A –

PATAHAN CINTA YANG MASIH BERBUNGA

Shanum 1492741579994

Ketika bara cinta telah menyala, membakar naluri, menghangus kesucian janji. Hingga ia tiada peduli akan menara kasih yang menjadi tumbang, terhempas gelombang asmara yang begitu dahsyat menggoda, hingga hanya imajinasi yang menjulang tinggi, dari sebuah khayal yang melukis keindahan dilangit yang temaram.

Semula kukira hatimu telah berpaling, disaat telah kuterima cinta yang lain, namun tiada kusangka, bahwa sesempit apapun waktumu, masih menyisakan ruang teduh untuk diriku.

Berulang kucoba melupakan, membenam semua kenangan, namun hantaran kasih sayangmu, telah jauh merasuk kepalung hati. Sehingga siapapun tiada dapat meruntuhkan, akan menara cinta yang begitu megah terpahat dalam ingatan.

Sehingga jikalau roda waktu dapatlah balik untuk berputar, niscaya tiadalah mungkin aku akan mengulang kesalahan diwaktu yang silam, karena kini barulah aku sadari, bahwa tanpa cintamu, hidupku laksana lajunya kapal tanpa kemudi, yang terombang ambing terhempas gelombang dilautan tiada bertepi.

Telah kupahami, bahwa cinta ini laksana bara api, yang akan menjadi indah, dikala berdamping sayang dengan lilin yang menyala, namun akan menjadi petaka, dikala kita sama menerjang keinginan, yang sesungguhnya sudah terlarang.

Karena siapapun tiada akan tau, dengan siapa kita akan berpasangan, dan siapapun tiada mampu mengelak, akan takdir cinta yang sudah digariskan oleh tuhan, namun sesungguhnya hati yang terlanjur sayang, tadalah dapat menghapus kenangan, walau akhirnya cinta kita tiada sepersandingan.

Harus aku akui, bahwa aku telah terpedaya oleh cinta, namun aku bukanlah pencari nikmat dunia, yang hanya mencari senang, dikala cinta mengelabukan pikiran.

Karena aku bukanlah saudagar, yang hanya mengambil manis dari sebuah kasih saying. Yang akan membiarkanmu menari, dengan gemercik gelang kaki yang pedih. Yang akan melenakanmu dengan hati yang resah gelisah.

Mungkin akulah sidungu, yang terlalu percaya akan cintamu, sehingga kisah asmara yang telah basah oleh airmata, tiada mampu terhapuskan, walau lembaran cinta, tiada lagi merangkai kisah yang indah.

Duhai sayang?..
Cintaku laksana merpati, yang mampu beterbang dengan tinggi, menerjang awan dengan sayap membentang dan menukik diantara perbukitan, namun hatiku tiada dapat lari, dari sebuah singgahan hati, yaitu dirimu yang slalu aku
– S A Y A N G I –

CINTA YANG TERLARANG

MEGA MOBIL:
REGGY SULINDRA.
0855 1122 010 – 0815 870 7117

1490319763265
Mengapa pertarungan bathinku tiada jua terhenti, disaat kudengar berita, bahwa engkau tiada bahagia dalam berkasih. Sedang rajutan sayang yang bersimpul keindahan, kini telah pupus terhunus, oleh runcingnya tombak keangkuhan dari insan yang ditetuakan.

Bukan aku tiada rela, dikala kata sepaham dari tetua telah memecah harapan. Bukan pula aku tiada sudi, untuk melihatmu bahagia dalam berkasih. Namun impian yang terpenggal, telah membuat hatiku terkunci dan terpasung dalam kepedihan.

Maka janganlah engkau menyangka aku tertawa karena bahagia. Janganlah pula engkau mengira, bahwa persandinganmu tiada membuat hatiku terluka. Namun karena cintalah, kurela menelan pahit, walau sesungguhnya hatiku menjerit.

Karena cinta yang terhempas, terinjak injak oleh pangkat dan derajat. Telah membuat hidupku, terpasung lara dilembah nestapa. Sehingga laksana insan yang tiada bernyawa, nalarku mati tiada berjiwa.

Puas sudah aku merana, terpedaya oleh siksa asmara. Lelah sudah aku menderita, terpasung lara dilembah nestapa. Sehingga laksana hewan air yang diterpa Kemarau, jiwaku menggelepar, meronta mencari keteduhan.

Hariku bergulir panjang, manakala cinta untukmu telah menjadi terlarang. Namun mengapa eloknya parasmu, senantiasa melekat dalam benakku. Sehingga laksana kerbau yang berkubang dilumpur basah, kedustaan cintamu tetaplah indah.

Duhai sayang?..
Cukuplah aku yang menelan kepahitan, dari kokohnya kesetiaan yang terhunus oleh penderitaan. Dan kurelakan engkau bersanding kasih dengan cinta yang lain.

Maka terkutuklah pencinta, yang hanya mengambil manis dari hati yang tiada berdaya. Yang berayun dengan senyuman, yang berdendang dengan gemuruh sanjungan. Namun menari pada sebuah hati, yang merintih pada balutan pedih.

Namun mengapa?..
Disaat telah kuterima cinta yang lain, engkau datang membawa seikat kepedihan, lalu bersandar pada hatiku yang menjadi larut dalam kebimbangan.

Ingin rasanya kuterjang batas haling, untuk meraih mimpi yang terhempas sebelum pajar. Namun satu hati yang telah menepi, yang mengobat duka dari sayatan hati, dan tiadalah mungkin aku dapat melukai.

Duhai sayang?..
Bukanlah tiada kuingin kisah berulang, bukan pula tiada aku berharap benang kasih terajut sayang. Namun cinta yang terlarang, tiadalah mungkin akan kuterlang, walau cinta yang telah terpahat indah, tiadalah mampu untuk sama kita
– L U P A K A N –

Direguk Pahit Dikenang Manis

1486440254005ColorSplasher

Mengapakah Jalan cintaku begitu pedih
Aku terperosok jauh dilembah sunyi.
Sedang engkau bersenang..
pada semaraknya pesta kemilau.

Semula kusangka.
Cintamu tumpah secawan.
Namun rupanya.
Hanya seteguk kecemasan Yang
menggoda pikiran.
Hingga laksana rembulan..
Yang perlahan menguncup ditelan
awan.
Rindangnya cintaku.
hanya berbuah Kedukaan..

Mungkinkah aku salah..
Yang terlalu besar mencinta..
Mungkin juga aku yang berdosa..
Karena terlanjur menyayang.
Namun kejujuran.
haruslah aku ungkapkan.
Bahwa rangkaian hatiku.
Telah menjadi searah dengan cintamu.

Sakit..
Dan mungkin terlalu sakit..
Dikala hidangan cinta bermenu dusta.
Hingga bagai terbang tiada bersayap.
Ataupun lari tiada berkaki..
Aku terjatuh..
Pada rimba cintamu yang berduri..

Entah kemana dokter kucari..
Untuk pengobat rindunya hati.
Sedang cinta yang kuinginkan.
Semakin jauh untuk tergapai.
Hingga bagai cakrawala dimalam kelam
Cahaya cintamu..
Tiada lagi nampak keindahan.

Masihlah terbayang dalam ingatan.
Dikala saat terakhir.
Dengan lembut suara engkau bisikan..
Bahwa apapun yang terjadi.
Diriku tiada akan engkau lupakan.
Hingga bagai insan yang tiada bernalar.
Bathinku melayang..
Jauh meninggi dialam pengharapan.

Tiada kupatah akan harapan.
Untuk sama mendulang kasih sayang.
Tiada kugugur dalam penantian.
Karena cintaku bukanlah bualan.
Namun yang tiada kupahami.
Mengapa cinta laksana mimpi..
Ia datang sekejap..
Lalu tersapu lenyap dikala ayam mulai
terbahak..

Kurenung wajahmu disepanjang waktu.
Kupahat dan kudekap kasih sayang.
disetiap hentakan nadi dari napasku..
Karena sesungguhnya..
Jalan terjal yang kulalui..
Hanyalah untuk sedayung kasih..
Pada keruhnya telaga cintaku..

Lorong hatiku hampa.
Dan selamanya akan menjadi hampa.
Dikala hantaran cintamu.
tiada lagi membawa indah.
Sedang rinduku telah bersulam.
Pada kisah asmara.
yang terlalu manis dalam kenangan.

Duhai sayang..
Hidupku menjadi tiada berjaya..
Jikalau engkau tiada bersama.
Namun cintaku tiada akan layu..
Walau aksara cintamu tiada lagi
bersatu.
Karena sesungguhnya.
engkau pergi dariku.
Namun bukan dari.
– H A T I K U –
——————-

Bingkai Cinta

1485021966499

Entah mengapa perasaanku senantiasa melekat pada eloknnya parasmu, hatiku telah dikuasai oleh cintamu, jiwaku telah terbelenggu oleh derasnya aliran sayangmu, sehingga siangku menjadi hampa jikalau engkau tiada, malamku menjadi bisu jikalau tiada melihat senyummu.

Semula aku tiada percaya bahwa cinta akan membuat mata hatiku buta, namun akhirnya kenyataan harus dipertontonkan, bahwa kebenaran ataupun kebohongan telah menjadi indah untuk aku rasakan.

Cinta itu datang diluar kekuasaan, ia merasuk kedalam hati dengan tiada meminta kunci, ia menikam laksana anak panah yang menghujam tepat sasaran, dan ia membenam kedalam jernihnya telaga kerinduan.

Aku tiada peduli harta ataupun kebahagiaan terbuang, asalkan cinta kita dipersatukan, karena jiwaku telah terpenjara, kedalam taman surgamu yang indah, karena hatiku telah terikat ,terjerat oleh pesonamu yang memikat.

Telah aku pahami bahwa tiada sedikit yang mencoba meraih hatimu, cintamu, namun ketegaran dari kokohnya tiang kesetiaan tiadalah akan menjadi tumbang, walau dahsyatnya badai cobaan datang menghadang.

Masihlah terbayang dalam ingatan, betapa kelembutanmu telah memanja diriku, karena engkaulah belahan djiwa dari cahaya cintaku yang tiada pernah sirna.

Penaku menari dilentik jari, merangkai kata diatas kanvas mega, melukis aksara cinta dibingkai nirwana, hingga diriku menjadi sempurna, ketika cintamu menjadi gemilang dalam rajutan sayang.

Maafkan aku yang pernah bersikap apatis terhadapmu, mengacuhkanmu, dan membiarkan hatimu terhanyut dalam gelombang rindu, namun bila saja engkau menyadari bahwa sesungguhnya jauh didasar qalbu, bahwa akupun telah terpasung oleh pesona
– C I N T A M U –

Cintaku Dirindang Harapan

FebriWiranti(1)ColorSplasher]

Mendesau sudah angin malam, lirih mendayu mengepak dahan, hanya iringan symponi, yang menghempas sukma kealam maya, melayang dan terbang, dan bersandar pada titik kenangan, manakala perlahan matamu menguncup layu, dan terlelap dalam buaian kasihku.

Biarlah putik tumbuh berbunga, bermanis madu harum aroma, laksana cintaku yang telah bersemi di pelataran hati, dan menjadi rindang disaat cintaku bersambut saying, maka usahlah engkau tutupi hatimu dengan perasaan rindu, karena walaupun tiada terdengar namun pujian dihatimu masihlah aku rasakan.

Aku yang rindu candamu, aku yang rindu celoleh dari nakalmu, aku yang rindu tangan lembut dari belaian sayangmu, namun maafkan aku!. yang tiada mampu menjadi penyangga disaat kerinduanmu menyapa.

Duhai sayang?.
Telingaku terkunci untuk semua pencaci, karena aku tiada peduli, sepahit apapun akan masa lalumu, ataupun semanis apapun kisah cintamu, karena cawan kerinduan yang engkau tuangkan telah membuatku mabuk akan sayang.

Namun berjuta do’a dan harapan, semogalah pelangi cintamu akan berbuah manis dalam penantian, hingga kebersamaan akanlah kembali kita rasakan.

Duhai angin yang berhembus?,
lelapkanlah kekasihku dalam rajutan selimut rindu, karena aku disini laksana bara hidup menyala, yang tiada pernah padam walau cintaku ini engkau abaikan.

Duhai penguasa hati?..
Sampaikanlah salamku untuk senyum sang pujaan hati, agar cinta yang engkau titipkan akanlah slalu harum dan bermekar, hingga tiba saatnya halal bagiku untuk berkasih sayang.

Karena sesungguhnya telah aku haramkan atas segala yang tiada engkau inginkan, hanyalah untuk tetes seteguk menjadi seminum, karena tujuan cintaku pasti, untuk bersamamu mengarungi bahtera kasih.

Kini biarlah rintihan hati mengalun lirih, dikala impian harus menggantung dipuncak harapan, namun cintaku akanlah tetap menyala laksana sinaran sang surya, dan selamanya cinta ini akan menjadi
– I N D A H –

Dibawah Restunya Tuhan

1490165878250

Sejak harapan tidak lagi tersenyum
Bermuram dicelah kerinduan..
Bermanja dilorong kehampaan.
Bagai angin yang berhembus..
Mematah dan memecah..
bitiran kapas yang perlahan
terhempas.
Hatiku melayang dengan berjuta
keinginan.
Namun aku tersesat.
kepada harapan yang bersimpang
dari tujuan..

Inilah diriku..
Yang hanya mampu bermimpi..
Inilah kidungku.
Yang hanya menepi kedalam nyanyian
surgawi..
Dan inilah penderitaanku..
Yang menjadi layu oleh ganasnya
murka duniawi.

Maka janganlah cuma melihat cinta.
Dari aksara yang terbaca oleh mata
Karena sesungguhnya..
Hatiku kering..
Laksana ranting patah yang lapuk
usia..
Djiwaku merana.
Laksana kuntum bunga yang hilang
aroma.
Hingga bagai kitab cinta yang
telah hilang aksara..
Hatiku terlelap dalam gulana.

Bila saat ini aku masih sendiri..
Bukanlah aku tiada rindu untuk
berkasih..
Namun untuk hati yang dibekali
iman.
Tiadalah akan mencari pasangan.
yang bukan dari restunya tuhan.

Bukan tiada kuinginkan.
Tilam sutera berpagar berlian..
Bukan pula tiada kuimpikan.
Istana megah gemerlap bintang.
Namun bila cinta yang diharapkan.
hanya seikat padi yang penuh rebah
berisi.
Ataupun sekeranjang anggur yang
merah dan ranum..
Niscaya apalah guna..
Bila lelapku dilanda gelisah.

cintaku tiada tumbuh liar seperti
ilalang.
Sayangku tiadalah bersemi pada
ranting yang tumbang.
Karena sesungguhnya..
Senandung surgalah yang menuntun
sayap cintaku terbang.

Perih rasanya..
Disaat melihat semua orang bersenang
bermanis dan bermanja..
Meninggalkan semua kesedihan.
Mengubur semua kedukaan.
Namun nasib cintaku..
tiada seberuntung dengan mereka..
Yang menjadi harum..
dengan sesama pasangannya. ,

Bila suatu ketika kutemukan halal.
untuk pasangan berkasih sayang..
Niscaya cahaya cintaku..
Tiada akan bersinar untuk cinta
yang lain.
Namun hanya kepada satu cinta.
yang untukku mengadu.
Hingga takdir menuntun jalanku..
Pada rebahnya usia disenjaku..

Aku berseru kepada sang penguasa
langit.
Aku meratap dan menjerit kepada
Megahnya cakrawala.
Dan aku meminta.
Agar djiwaku tiada dipenuhi kebencian..
Akan hujatan.
Akan cemoohan.
dari orang orang yang tiada
mengerti Akan ketidak berdayaan..

Yaa. Allah..
Kusebut namamu..
Seperti mantra yang melelap
tidurku..
Kupilih jalanmu.
Karena kutau engkau tiada akan
menyesatkanku..

Maka janganlah engkau pertemukan
aku..
Dengan hati pendusta.
yang bersembunyi pada paras mulia.
Yang membuat layar cintaku menjadi
surga..
Namun hatiku..
laksana sekam yang terbakar bara
– N E R A K A –
Hmmmm——-