SEREKAH MAWAR DALAM PELUKAN


Ketika angin malam berbisik, rebahku tiada menimang ketenangan, hanya resah hati yang membara, mengusik jiwa yang terbakar gelora, dari kenangan masa silam yang masih terbayang dalam ingatan, namun tersisir perih oleh takdir mim yang bersimpuh dipersimpangan kasih

Maka bukanlah karena ketidak berdayaan, lalu hati yang lemah meronta dan mengais kasih sayang, ataupun gejolak muda remaja yang ingin merobek mencakar bahtera, namun keperkasaan cintalah yang kiranya telah meruntuhkan dinding kasih, hingga jendela hati yang terkunci, kiranya telah poranda diterpa badai asmara.

Karena walaupun kini telah kubuat dunia baru dalam kehidupanku, namun nyatanya tiada mudah bagiku menyembunyikan airmata, manakala dihening malam, selaksa impian telah bersimpuh ditelapak kerinduan, sehingga surga bahtera yang tergenggam, kiranya telah menjadi bara neraka yang membakar.

Maka pantaskah langit cintaku bersorak, disaat bumi kasih yang terpijak telah mengubur asa yang mengangkasa, sedang diredup rembulan hatiku terbuai oleh mesranya senyum sang bintang atau pantaskah purnama sayangku terbahak, sedang istana indah yang terimpikan kiranya telah menjadi dinding penghalang untuk kita berkasih sayang.

Duhai sayang.
Bila saja disaat itu engkau datang dalam keresahanku, niscaya tiadalah mungkin hatiku berpaling dengan cinta yang lain, sedang bualan sayang yang engkau janjikan, kiranya tiada jua menimbang kerinduanku pada kemenangan.

Karena apalah arti dari sebuah ucapan sayang, bila hanya untuk membuat hatiku terbang, sedang sayap dari kupu kupu cintamu, hanyalah untuk singgah dan bermesra pada setiap mekarnya klopak bunga.

Tiadakah engkau merasakan, bahwa begitu banyak penderitaan yang aku sembunyikan, manakala dipelukan malam, engkau rengkuh diriku dengan kerinduan, sehingga masa indah yang telah terhapus dan terlupakan, kiranya harus kembali bersandar pada jiwa yang kering akan kasih sayang.

Karena walaupun mawar putih yang telah terjatuh ditelaga cinta yang jernih, kiranya tiada akan menjadi layu, walau berabad penderitaan akan menguji kesetiaan, sehingga tiadalah mungkin aku dapat meronta, manakala pesona cintamu yang laksana cakar tarantula mencakar mangsa, namun nyatanya menitikkan racun berbisa yang indah.

Maka tanyakan pada hati kecilmu, masih adakan dermaga rindu untuk tempat cintaku berlabuh, sehingga pancaran kasih yang redup temaram, akanlah menjadi cemerlang laksana pesta bintang dikegelapan.

Karena bila tuhan telah mengikat sutera cinta untuk kita, niscaya siapun tiadalah akan sanggup melepaskannya, sehingga kesucian cinta yang telah tumbuh didasar hati, tiadalah akan menjadi keramau, walaupun cinta kita tiada sepersandingan.

Maka datanglah engkau kedalam kepelukan, niscaya engkau akan temukan jawaban atas keraguan, karena walaupun asmaraku meniti dijembatan cintamu yang rapuh, namun kiranya tiada akan membuat genggaman cintaku terjatuh.

Duhai Sayang?.
Kini ladang impianku telah basah oleh hujan rindu yang menggelora, manakala serekah mawar yang rebah layu kini telah kembali bermekar ditaman jiwa, sehingga tiada hati menjadi kesusahan disaat senyum sibunga mawar telah kembali dalam pelukan.

Maka janganlah engkau membawaku melangkah diantara hamparan bunga namun engkau membiarkan hatiku berduka, karena sesungguhnya engkau bukanlah cinta yang terlahir dari mimpi, yang membuatku terjaga, manakala terdengar ringkik kereta menjerit lalu menghentak lamunan diderap malam.

Ya Tuhan.
Mengapa engkau menuntun arah cintaku pada jalan yang bersimpang, sehingga serekah mawar yang telah harum tergenggam, kiranya harus jatuh terapung diatas samudra penantian.

Maka bangunkanlah aku, dari mimpi indah yang akan membunuhku, sehingga jerat tarantula dari cintanya tiada akan meruntuhkan dinding kesetiaan yang telah tergapai atau biarkan aku terlelap dan terbuai dialam khayal, manakala senandung pasir telah mengukir senyumku dipesisir, namun nyatanya mimpiku terkubur  diujung
– T A K D I R –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *