CINTA SUCI PENJELAJAH BAHARI

Cinta Suci Penjelajah Bahari
———————————

Ketika kapal bersandar telah lepas tali pengekang, kulihat seraut wajah polos yang gemulai telah tergurat kesedihan, sehingga pancaran kasih seketika mengerut ngeri, manakala lentik jemari melambai bersambut cerobong asap menjerit selamat tinggal.

Kubentang layar bukanlah karena ingin terbang, namun abdiku sebagai anak negeri kurela pergi asalkan sejengkal bahari tiada tercurangi, kuarungi lautan bukanlah untuk menantang murkanya gelombang, namun untuk senyum bahtera kasih yang abadi, aku rela pedih walau harus terasing keujung negeri.

Sehingga laksana ganasnya hiu pemangsa, kapalku melaju menerkam murka samudra, menerjang badai mencakar gelombang dan membenam resah membara, manakala api rindu tiada henti membakar jiwa.

Karena do’amu mengalir diantara hembusan angin, yang menyejuk hati gulana disepi bahari , sayangmu bercahaya diantara bintang bintang yang bermanja dilingkar bulan penuh kerinduan dan cintamu telah menjadi harum dilentur taman biru samudra hatiku.

Namun apalah daya manakala hati perkasa dilanda gulana, bintang berseri membakar naluri, gelombang bersorak congkak terbahak, hanya iringin symponi bahari yang membuai khayalku dilaut mimpi.

Sehingga dibibir malam resahku tiada menimbang kemenangan, hatiku larut dibuai symponi bahari, hanya paras menggoda secantik purnama yang membalut kebimbangan, manakala dibumi yang lunak hatiku karam dimekarnya bunga karang kerinduan.

Maka janganlah engkau biarkan aku meratap pilu dibawah payung kerinduanku dengan duduk membungkuk memeluk lutut diburitan sepi, sehingga diatas anjungan harapan yang tinggi namun engkau biarkan cintaku patah kemudi.

Karena hanya tawamu mengubur sepiku, karena hanya senyummu menghempas pahitku, sehingga pesonamu laksana hujan salju dimusim dingin, yang membuatku tiada henti menggigil dan menjadi hangat manakala diparas imajinasi engkau memelukku dan ditubuh kita menyatukan rindu.

Duhai sayang?…
Walau seribu dermaga dapat kusinggah dan berjuta paras molek mempesona datang menggoda, niscaya cintaku tiadalah akan terpedaya, karena paduan kasihku telah bersemi dan tiada akan menjadi gugur, walau berjuta musim akan berganti.

Sehingga walaupun kita lama tiada berdamping, niscaya kesetiaan cintaku akanlah slalu bersanding, karena engkaulah dermaga, pelabuhan hatiku bersandar asmara, karena engkaulah navigasi penuntun arahku dalam meniti luasnya samudra kasih.

Karena bagaimana mungkin aku bisa hidup jauh darimu, sedang disetiap hentakan haluan yang mencakar gelombang, hanyalah rupamu yang terbayang dalam inggatan, sehingga sepanjang waktu yang aku lalui, niscaya tiada sedetikpun yang akan mengembara dari hatimu.

Maka selamilah hatiku lebih dalam, niscaya tiada akan engkau temukan keraguan atas cintaku, karena aku bukanlah perompak yang berhati laknat, yang akan memperdaya hatimu dengan muslihat, yang ingin membuai lelapmu dengan indahnya cinta sesaat.

Namun bila suatu ketika kulempar jangkar diantara pekikan camar yang bersahutan dan kulihat parasmu diantara ikan ikan yang berenang dilenturnya terumbu karang, niscaya tiada kutemukan surga yang lebih indah, selain kilau permata dari senyummu duhai bidadariku tercinta.

Ya Allah…
Biarlah aku menjadi raja kecil penguasa bahtera asalkan riuh gelombang dari cahaya hatiku dapat bersorak dan bertepuk tangan dengan gembira dari pada engkau jadikan aku seorang raja yang bertahta diatas singgasana yang indah, namun berenang diatas samudra airmata hambanya.

Karena bila pada suatu ketika langit tiada menjadi ramah dan lautanpun menjadi murka dengan semua penghuninya, sehingga istana terapung hancur tergulung dan aku menjadi bangkai terkubur berpusara karang, niscaya cinta yang bernaung dibawah rindho dan keikhlasan akanlah slalu berdiri diatas anjungan kesetiaan, sampai tuhan mengunci jalan hidup kita untuk sama tersenyum dimegahnya kabin surga yang
– D A M A I –

Tinggalkan Balasan