CINTAKU TERBAKAR DIDERASNYA HUJAN KERINDUAN

Ketika perasaan sayang, telah berayun dibeningnya ingatan,
dari kenangan masa lalu yang masih disini, manakala engkau
membawaku ketaman indah untuk bermesra diharumnya kelopak
bunga, hingga datang tepukan sayap dari binatang malam
yang mengusik lamunan, dan seketika sirna bersama datangnya
senyum sang fajar.

Sehelai daun kerinduan telah melayang jatuh dipangkuan,
melepas terik dan mengikis rindang kedukaan, dan bunga
bungapun bergugur, manakala dimusim semi yang indah
seketika cintamu hilang aroma.

Adakah kiranya seseorang telah mencuri hatimu, dan dengan
tiada menimbang, engkau tega mengunci hati pada cintaku
yang tiada batas menyayang, hingga beningnya cintamu telah
menjadi keruh, dan tiada lagi bersandar pada hatiku yang
terlalu tinggi menyayang.

Begitu mudahkah hatimu terpedaya, terperosok dan terjatuh
dilembah nista, sehingga dilidah neraka yang menyala, telah
menjadi sebuah pesta untuk tempatmu bermanja, manakala
bualan berbisa engkau jadikan sebuah ilham, untuk indahmu
dalam berkasih sayang.

Entah adakah cinta ini suatu kesalahan?, sehinga penderitaan
begitu panjang untuk aku rasakan, sedang disetiap gelembung
merah yang mengalir didalam darah, masihlah menggumpal kasih
sayang yang tiada pernah pecah.

Karena walaupun kini jarak telah memisahkan jalanku, namun
aku telah kehilangan hati dan jiwa, sehingga gelisahku tiada
mampu bersandar, manakala hatiku terguncang diterpa hembusan
angin kerinduan.

Maka tiada pantaskah aku menjadi serakah?, manakala hatiku
telah menjadi milikmu seutuhnya, karena walaupun dimimpi
yang indah aku terluka, namun kerisuaan hatiku seketika
sirna, manakala dikeruhnya telaga jiwa, engkau percikan
tinta emas yang menyala.

karena dikedua telapak tanganku, telah tertulis garis cinta
untukmu, dan seamanya akan menjadi keabadian, sehingga
walaupun begtu banyak penderitaan yang akan menghadang,
niscaya cinta untukmu tiada akan pernah berkurang.

karena cintaku bukanlah sebakul jagung pengumpan burung,
ataupun sekeranjang gandum yang berat terpikul, namun
selingkar tasbih yang menyejuk hati, Yang tiada akan sirna
walau berjuta musim akan berganti.

Maka apalah guna aku bersenang dijernih sungai, apabila
engkau tiada besertaku mengarunginya. Karena walaupun aku
tergelincir dari jembatan cintamu yang rapuh, namun semua
itu tiadalah akan meruntuhkan kesetiaanku.

Bahkan ketika engkau jauhpun, hatiku tiada dapat melupakan,
karena cintamu telah hidup dalam diriku, dan tiada akan
kubiarkan cinta itu menjadi layu, walau sesungguhnya ragaku
terlalu rapuh, untuk dapat membuatmu tersenyum.

Maka biarlah aku menjadi rahasia dalam hidupmu, rahasia
yang tiada pernah terkunci disetiap mimpi, rahasia yang
slalu terbuka untuk sebuah pengharapan, sampai takdir
menuntun jalan cinta kita, untuk sama tersenyum disurganya
tuhan.

Karena aku tiada pernah tau, sampai kapan perjalanan cintaku
akan berakhir. Entah dapatkah kita slalu melaju dalam satu
perahu, ataupun terkunci sampai terhenti detak nadi, namun
untuk melihatmu slalu tersenyum, niscaya aku relakan
selamanaya airmataku mengalir.

Namun apabila malaikat telah menyirami hatimu dengan cahaya,
dan tuhanpun telah menuntun jalan nasibku untukmu, niscaya
tiadalah aku mampu menutupi kegembiraan, manakala cintamu
bersanding dalam dekapan.

Ya allah.
Entah rahasia apa yang engkau sembunyikan, manakala dibawah
teriknya cahayamu, namun engkau gelapkan jalanku, sehingga
laksana melangkah diatas bara, hatiku hangus binasa, manakala
kesucian cintanya telah menjadi harum diatas abu
– P E N D E R I T A A N K U –

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *