KUKIRA ENGKAU SETIA


KUKIRA ENGKAU SETIA

Ketika dibelantara kota hatiku sepi, aku tersesat dan tertatih pada jalan yang tiada asing kulalui, manakala jiwaku perlahan pergi, menanti dan mencari, akan cintamu yang tiada lagi menepi.

Tiada pernah terlintas dalam benakku, engkau akan memperdaya cintaku, karena semula kukira, hanya aku yang dapat membuatmu tersenyum, namun nyatanya, hanya gumpalan sendu yang tinggi menggunung.

Engkau mengambil harum dari napasku, namun mengapa kemudian cintamu berlalu. Sehingga laksana kapal nelayan yang diguncang badai, hatiku terombang ambing dalam lautan kesedihan.

Entah siapa sebenarnya yang engkau sukai?, sedang disenyap malampun engkau biarkan aku sendiri. Entah kebahagiaan apa yang engkau inginkan?, sedang rembulan ditangan, engkau remas dan engkau campakan.

Engkau yang menuangkan aku segelas anggur kenikmatan, namun mengapa belumlah habis terminum lalu engkau tumpahkan?, sehingga aku yang telah terjatuh dalam pangkuan hatimu. Kiranya harus menjadi debu dari begitu banyaknya cintamu.

Kau sanggulkan aku bunga, namun mengapa kau balurkan wajahku dengan airmata?, sehingga dengan tiada asap hatiku terbakar, manakala diruncing rembulan, cintamu tiada berpetualang dengan keindahan.

Entah muslihat apa yang mengalir dalam benakmu, sehingga engkau berlaku keji menista cintaku.
Sehingga kerajaan kecil yang aku impikan, kiranya hanya dongeng indah yang melelap sikecil dikala malam.

Duhai sayang?, Janganlah terus mengintimidasi hati, karena aku tiada meminta sedekah dari banyak cinta yang engkau punya, karena sesungguhnya cinta yang bernilai, tiadalah akan engkau dapatkan, pada eloknya rupa, yang slalu membuatmu terbang akan sanjungan.

Entah hidupku untuk siapa, apabila legenda cintamu tiada membawa sertaku didalamnya?, karena walau tiada setetes kasih sayangmu mengalir, namun yakinlah bahwa cinta untukmu tiada akan pernah kering.

Maka peluklah diriku, dan ambillah hangat dari tubuhku?, niscaya engkau akan percaya, bahwa tiada keraguanku atas cintaku. Karena sesungguhnya, engkau bukanlah bayangan yang terlelap dalam dekapan, yang hanya untuk menepis bisu, manakala hatiku dilanda rindu.

Rasanya tiada mungkin aku melupakan, akan kisah romantis diujung petang. Manakala engkau biarkan payung menguncup dideras hujan, dan sepuluh jari berpaut satu genggaman. Sehingga aku yang begitu dungu akan asmara, kiranya telah menjadi dewasa ,dalam dentang melodymu yang mesra.

Namun mengapa kini, begitu cepat cintamu menua?, sehingga musim semi berlalu dengan tiada aroma bunga. Entah masih adakah harapan untuk cinta berbuah senyuman?, sedang airmata yang tergenggam, adalah perasaan hati yang engkau abaikan.

Entah kemana cintamu berimigrasi?, hingga aku terasing dalam bahtera cintaku yang suci. Sedang bentangan sayang dari sayap elang yang aku banggakan, kiranya hanya cakar terurai yang telah tega memangsa dan melukai hati yang tiada henti mengasihi.

Duhai kasih, haruskah hubungan ini harus berakhir?, sedang untuk cintamu aku terlahir. Haruskah cinta berpusara, sedang cinta untukmu, slalu berpetualang mesra diharum bunga.

Karena sesungguhnya muara kasihku telah bersemi, dan tiada kuingin mengering lagi, maka janganlah kau tampakkan wajah pengecut, karena walaupun aku terbiasa kehilangan dari apa yang aku inginkan, namun cinta untukmu, niscaya tiada akan pernah
– P A D A M –

Tinggalkan Balasan