MULIANYA RENCANA TUHAN

1495011233227

Ketika berjuta lembaran do’a telah berpaut pada suatu keinginan, bergemuruh aliran rindu, menggelegar gelombang sayang dan menghangus serpihan duka, manakala selaras senyum telah menari mesra diujung mata.

Begitu mulianya rencana tuhan, manakala kupijak bumi cintamu sebagai singgahan, sehingga laksana gemericik hentakan gelang kaki, engkau membuat hatiku menari, menerang pelangi dipentas buana hati.

Entah sihir apa yang engkau kemat, sehingga dikala sama menatap, keangkuhanku menjadi luluh dan berkarat, karena hanya cahaya matamu yang dapat menghibur sepiku, karena hanya senyum manismu yang dapat mengubur kepedihanku.

Sehingga aku yang begitu lugu, yang tiada mengenal akan asmara, kiranya kini menjadi seorang pemabuk, hingga tiada dapat membeda antara madu ataupun racun yang engkau suguhkan, yang karena saying semua menjadi nikmat untuk aku rasakan.

Semula aku tiada percaya, bahwa dengan cinta diriku akan menjadi terpedaya, namun barulah kini aku sadari, bahwa disaat engkau jauh, hatiku sangatlah merindukanmu, hingga begitu banyak kegelisahan, yang telah mengganggu pikiran.

Karena bagiku engkaulah yang teristimewa, yang mampu meruntuh kepingan duka mengubur nestapa, sehingga begitu banyak kesenangan yang aku rasakan, yang tiada mampu terbaca oleh nalar dan pikiran.

Telah kulihat bunga pada bibirmu, sehingga setiap yang engkau kecap, mmenebar keharuman pada djiwaku, mungkinkah aku telah jatuh cinta, atau lebih jauh dari kata cinta, sehingga bila sekejap tiada berjumpa, niscaya hatiku slalu dilanda gelisah.

Duhai penguasa malam.
Entah dengan siapa kutitipkan kabar, agar engkau mengerti akan apa yang sedang aku rasakan, sehingga keriduanku dapatlah terbayar dengan senyuman, sehingga kesucian cintaku tiadalah hangus direbah petang.

Duhai sayang?.
Tolong ajari aku untuk mengendalikan rasa rindu, tolong katakan sesuatu, hingga sayap cintaku tiada terbenggu pada jeruji hatimu, karena helaan napasku akan terhenti, manakala indahnya senyummu tiada disini.

Kini teratai cintaku telah basah, tersiram hujan asmara menggelora, gelembung rinduku telah pecah, tertikam oleh dahsyatnya sihir keindahan, sehingga laksana petani yang menari berpesta dipanen raya, dihela napas pedati aku bernyanyi, dan disenyum rembulan kugantung sebuah harapan yang suci, yang akan slalu bersama satu hati, sampai napas ini
– T E R H E N T I –

Tinggalkan Balasan