Cintaku Dirindang Harapan

FebriWiranti(1)ColorSplasher]

Mendesau sudah angin malam, lirih mendayu mengepak dahan, hanya iringan symponi, yang menghempas sukma kealam maya, melayang dan terbang, dan bersandar pada titik kenangan, manakala perlahan matamu menguncup layu, dan terlelap dalam buaian kasihku.

Biarlah putik tumbuh berbunga, bermanis madu harum aroma, laksana cintaku yang telah bersemi di pelataran hati, dan menjadi rindang disaat cintaku bersambut saying, maka usahlah engkau tutupi hatimu dengan perasaan rindu, karena walaupun tiada terdengar namun pujian dihatimu masihlah aku rasakan.

Aku yang rindu candamu, aku yang rindu celoleh dari nakalmu, aku yang rindu tangan lembut dari belaian sayangmu, namun maafkan aku!. yang tiada mampu menjadi penyangga disaat kerinduanmu menyapa.

Duhai sayang?.
Telingaku terkunci untuk semua pencaci, karena aku tiada peduli, sepahit apapun akan masa lalumu, ataupun semanis apapun kisah cintamu, karena cawan kerinduan yang engkau tuangkan telah membuatku mabuk akan sayang.

Namun berjuta do’a dan harapan, semogalah pelangi cintamu akan berbuah manis dalam penantian, hingga kebersamaan akanlah kembali kita rasakan.

Duhai angin yang berhembus?,
lelapkanlah kekasihku dalam rajutan selimut rindu, karena aku disini laksana bara hidup menyala, yang tiada pernah padam walau cintaku ini engkau abaikan.

Duhai penguasa hati?..
Sampaikanlah salamku untuk senyum sang pujaan hati, agar cinta yang engkau titipkan akanlah slalu harum dan bermekar, hingga tiba saatnya halal bagiku untuk berkasih sayang.

Karena sesungguhnya telah aku haramkan atas segala yang tiada engkau inginkan, hanyalah untuk tetes seteguk menjadi seminum, karena tujuan cintaku pasti, untuk bersamamu mengarungi bahtera kasih.

Kini biarlah rintihan hati mengalun lirih, dikala impian harus menggantung dipuncak harapan, namun cintaku akanlah tetap menyala laksana sinaran sang surya, dan selamanya cinta ini akan menjadi
– I N D A H –

Tinggalkan Balasan