Api Cinta Madu Asmara

pondok%20aren-20161016-00186color%20splashercolor%20splasher

Ketika engkau membuka gerbang hati untuk sebuah kasih sayang yang tiada pernah aku relakan, disaat itulah aku menyadari, bahwa aku telah berdiri pada
tebing yang tinggi, lalu terperosok dan terjatuh pada lubang duka yang pedih.

Begitu kejikah hatimu, menyiram gelembung do.a dengan percikan noda, lalu engkau gilas hatiku dengan derita, engkau siram dan engkau bakar dengan api duka yang menyakitkan, sedang aku disini, engkau biarkan sepi menanti janji, yang hanya berteman mimpi, yang melambung mesra dari bualan manja yang berbisa.

Bila sudah tiada cinta, mengapa engkau berjanji surga, bila memang sudah tiada sayang, mengapa engkau gantung mimpiku dipuncak harapan, hingga bagai gitar tiada berdawai, hatiku hampa tiada nada, hingga bagai terputus urat nadi, jiwaku mati tersayat pedih, hanya gelembung pilu dari irama yang tiada berlagu, yang mengalun lirih pada jiwaku yang perih.

Aku tiada akan meminta untuk engkau bersumpah setia, ataupun kata maaf untuk membayar duka yang menyayat, karena ranting cintaku kini telah
patah, dan tiada lagi akan berbunga.

Kini biarlah kupergi menyusuri rimba cinta yang berduri, dan tiada usahlah lagi engkau menjadi pemandu, dari gelapnya jalan
– H I D U P K U –

Tinggalkan Balasan