Tahta Cinta Yang Hilang Mahkota

Ketika indahnya mahligai telah ternoda.
Cinta menjadi hangus..
Sayang menjadi patah..
Hanya bara menyala membakar djiwa..
Yang mengunci hati..
Hingga tingkah yang salah..
tiadalah lagi dapat terampuni..

Duhai cintaku..
Tiada relaku untuk berpisah..
Dan tiada mauku..
Untuk menghapus cinta sebelum senja..
Namun bila busur langit..
telah melepas panah merah
Niscaya apalah daya..
Menangispun aku sudah tiada guna..

Bila saat ini aku masih tetap sendiri..
Bukanlah karena..
Aku tiada mampu mencari pengganti..
Namun tahta cinta yang kini hilang
mahkota..
Tiada kurela..
Siapapun untuk menggantikannya..

Namun mengapa.
Setelah engkau rengkuh kebebasan..
lalu engkau menjadi serakah..
Hingga rinduku akan permata djiwa..
Kau siram dengan percikan noda..
Dan akupun..
Kini engkau anggap tiada..

Kutelusuri sudah jalan terjal..
Jalan pedih yang berliku dan
berlubang..
Yang untuk meraih dekapan kasih..
Akan permata djiwa.
Yang tiada pernah lepas aku sayangi..

Duhai Permata Hatiku..
Biarpun mata tiada sama bertatap..
Biarpun tangan tiada dapat mendekap.
Namun do,a dan sayangku..
Tiadalah akan pernah bisa berkarat..

Karena disetiap remangnya malam.
Masih kulihat engkau bagai siluet
terbang..
Engkau tersenyum..
Engkau berlari..
Dan engkau terjatuh..
menangis dalam pangkuan..

Hingga bagai ladang kering.
Yang menanti hujan..
Akar rinduku menggeliat..
Meronta dan tersiksa..
Hanya untuk mencari setitik air..
Dari senyum manis permata djiwa..
Yang kini jauh entah dimana..

Kini..
Haruskah aku memaki rembulan..
Yang telah mengusik lelapku dengan
kerisauan..
Ataukah aku harus membenci matahari.
Yang telah mematah busur asmara..
Hingga takdirku bercerai kasih..

Sedang jalan hidupku yang berdebu..
Masihlah menyimpan sebongkah rindu..
Yang untuk buah hatiku..
Yang kini semakin jauh..
untuk dapat aku..
– S E N T U H –
———————

Tinggalkan Balasan