AKU RINDU PURNAMA DARI SANG PENEDUH JIWA

Ketika hati telah tergoda. Berlayar dan berlabuh kepada indahnya pelangi asmara. Niscaya ia akan terlupa pada pelataran hati, yang slalu mengiring langkah, dengan tiada henti melepas do,a.

Papa?..
Janganlah gejolak bahtera, kau sirami anakmu dengan percikan cerca. Hingga aku terlunta, tersandung pilu dilembah nestapa..

Papa?…
Engkau yang membimbingku untuk slalu bermoral, namun jangan engkau paksa aku untuk menjadi kurang ajar. Karena hati kecilku tiada akan pernah hilang bakti, walau berulang engkau mencaci.

Papa?…
Harus dengan apa aku berbakti, agar engkau tiada lagi berlaku keji. Entah apa salahku?, entah apa dosaku?. Hingga segala tingkah, seakan kau anggap menjadi duri.

Papa?…
Janganlah kau penggal masa remajaku. Janganlah kau hancurkan citaku. Karena akupun juga punya mimpi yang akan aku jejaki, walau kini semakin pahit untuk aku lalui.

Papa?…
Tiada pupus aku berdo,a, untuk bahagiamu sebagai peneduh jiwa. Tiada lelahku untuk mengabdi, walau berulang hatiku tersakiti. Namun janganlah kau putus rantai sayang, hingga diriku menjadi terbuang.

Bagai ombak menggelegar diujung samudra, menderu menghantam perahu terapung, hatiku terkapar, jiwaku terbang tanpa tujuan, dan kini aku terasing dari kasih sayang.

Papa?..
Engkau yang dulu begitu perkasa, yang telah membuatku bangga. Kini hatimu begitu rapuh untuh menjadi peneduh. Kini jiwamu lemah untuk menjadi penopang bahtera. Hingga indahnya istana, bagai terbakar dengan panasnya bara neraka.

Papa?…
Gelembung darah yang mengalir, bukanlah dengan nista aku terlahir. Namun mengapa pijaran saying kau buat lebih menjulang, kepada jiwa yang kini engkau sembunyikan..

Papa?…
Aku rindu pada teduhnya hatimu. Aku ingin pulang pada lembutnya ucapan. Yang dapat membuatku tersenyum. Bersandar dan bermanja dalam hangatnya
– B E L A I A N –
I Love You .. P A P A

Tinggalkan Balasan