Sedarah Sama Merah

IMG-20160529-WA000

Mengapakah engkau menjadi asing, sedang darah yang mengalir ditubuh kita berasal dari butiran kasih yang sama, sedang kerasnya tingkah kita berasal dari lembutnya belaian tangan yang sama.

Sayangku seluas tangan membentang, rinduku seluas hamparan lautan, namun mengapa langkah hati kita tiada pernah searah, hingga perselisihan bagai tiada pernah reda.

Entah apa yang dapat kita banggakan disaat sinis teruslah menghujam, entah apa yang dapat kita pertanggung jawabkan kepada peneduh jiwa yang kini telah bertabur kembang setaman, sedang jiwa kita slalu membanjir kebencian.

Hatiku bukanlah sebongkah karang yang begitu congkak menantang badai, yang begitu angkuh walau tertiup dingin hembusan bayu, namun hatiku begitu rapuh, jiwaku ingin berlabuh pada dirimu saudaraku, yang tiada pernah lepas akan rindu.

Entah sampai kapan hati kita membatu, sedangkan disetiap bumi yang terpijak slalu kusebut namamu, sedangkan disetiap tangisan langit slalu kuingat dirimu, haruskah aku bersujud dan menyembah untuk meraih belaian maaf, haruskah kualirkan darah hingga engkau tau bahwa disetiap gelembung merah, bergumpal butiran rindu yang tiada pernah pecah.

Duhai saudaraku..
kudayung hati dalam kembara bukanlah tiada ingin restu dan do’a, namun biarlah aku merenung diri, agar jalan panjang yang aku lalui menjadi penawar untuk kita sama membuka hati, untuk kembali merantai tangan merajut kembali benang persaudaraan yang kini telah
– K U S A M –

2 komentar pada “Sedarah Sama Merah”

    1. Amiiin..
      Insya allah..
      Alhamdulillah respon dari pengunjung blog juga web ..
      Sangat terkesan dgn cerita tersebut..
      Dan tenunya banyak kesamaan dgn kehidupan penikmat kata di web ini..
      Makasih bg aman..
      Telah berenan menjadi inspirator dalam tulisan tsb..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *