Bagai Cermin Yang Retak

Jauhlah sudah aku berlayar, melintas pulau juga lautan, dengan menahan sakit akan penghianatan, dari lemahku yang kian engkau sia siakan.

Terdiam aku menatap rembulan, yang begitu indah mengiring lajunya kapal, hingga sejenak anganku menjauh terbang, teringat akan manisnya janjimu dikala kita masihlah berpacaran.

Indah sungguh rupamu. Manislah sungguh senyummu, hingga singgahnya cintamu, seakan membawa butiran salju didalam qalbuku, dan aku tiada ragu akan ketulusanmu, untuk menjadi abdi setia, diistana cinta dalam mahligai yang indah.

Namun mengapa cinta dihatimu laksana pelangi, yang memancar berjuta warna indah berseri, namun berangsur sirna tiada menyisa, dan akupun terpasung dalam megahnya istana, dengan menelan hina juga cerca.

Cukuplah cinta sampai disini, dan kututup sudah drama cinta yang mengoyak hati, yang terlalu indah untuk dilihat mata, namun terlalu pahit untuk dirasa.

Tiada hasratku untuk menuai banyaknya berlian, dan bukan pula mauku
untuk memetik keindahan bintang, namun hanyalah untuk melihat buah hatiku tertawa riang, dari ratap dan tangis yang tiada lagi engkau hiraukan, hingga akupun berlayar mencari
– P E R U N T U N G A N –

Tinggalkan Balasan