NAMAKU INTAN

Kutatap sudah rona rupa yang istimewa, yang terpampang indah dibingkai kaca, yang gagah perkasa laksana BIMA, yang kini tiada lagi berita, yang entah ada atau mungkin sudah tiada, hanya ratap dan do’a berharap kita kembali bersama.

Tiada Intan sesalkan, bila Intan yang tumbuh besar dari kelembutan tangan, kiranya harus menjadi kekar karena keadaan, yang tiada mengenal pagi ataupun malam harus berpacu menopang kehidupan, hingga tertatih melangkah hari, merintih dikala sepi dan berharap hadirmu walau hanya dalam mimpi.

Papa..
Aku memang bukanlah Intan yang slalu berkilau dalam kegelapan, namun jangan jadikan aku intan yang terbuang, intan yang hilang akan kasih sayang, intan yang tiada tau harus kepada siapa untuk bersandar.

Intan sayang papa dan intanpun menyadari, bahwa Mama bukanlah yang pertama dari tahta mahligai yang papa punya, namun disini papa tetaplah seorang raja, yang slalu intan junjung tinggi akan segala keagungan dan kemuliaannya.

Papa..
Tiada intan tau kapan putaran waktu akan terhenti, hingga kebahagiaan akan terengkuh untuk kita bersama meniti hari, namun apabila takdir tiada lagi menghendaki, niscaya Intan akan slalu berharap, kiranya papa akan kembali bersama, walau itu hanya digerbang.
– S U R G A –
I love you papa……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *